Powered By Blogger

Mengenai Saya

Foto saya
Malang, Jawa Timur, Indonesia

Senin, 23 Agustus 2010

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian
Ditinjau dari banyaknya pengimporan ternak unggul yang terjadi di negara kita. Hal tersebut dipicu dari kurangnya tenaga ahli dalam bidang tersebut, dan juga kurangnya lapangan kerja yang ada. Dengan adanya Balai Inseminasi Buatan (BIB) ini berarti membantu negara meringankan dalam hal pengimporan ternak unggul. Disamping itu juga Balai Inseminasi Buatan (BIB) juga memproduksi semen beku, benih unggul, ternak unggul. Selain itu juga Balai ini memberikan pendapatan untuk negara.
Oleh karena itu, penulis mencoba meneliti Balai Inseminasi Buatan (BIB) ini agar penulis bisa mengetahui dengan pasti cara-cara memproduksi sapi-sapi yang unggul.

1.2 Rumusan dan Pembatasan Masalah
1.2.1 Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud Inseminasi Buatan ?
2. Bagaimana cara memproduksi semen beku ?
3. Apa saja jenis sapi yang ada di Balai Inseminasi Buatan ?
1.2.2 Pembatasan Masalah
Dalam pembuatan karya tulis ini, penulis membatasi penulisan pada :
1. Inseminasi Buatan
2. Cara memproduksi semen beku
3. Jenis-jenis sapi

1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penulis melaksanakan penelitian yaitu :
1. Agar lebih memahami cara reproduksi sapi di Balai Inseminasi Buatan (BIB)
2. Agar menambah wawasan dan memperbanyak ilmu
3. Memenuhi tugas lintas mata pelajaran sekolah
1.4 Metode Penelitian
Metode penelitian untuk mengumpulkan data-data dalam rangka penulisan karya tulis ini dengan cara sebagai berikut :
1. Metode observasi, yaitu proses pengumpulan data melalui kegiatan melihat, memantau dan menganalisa secara langsung sehingga akan lebih jelas objek yang diamati.
2. Metode tertulis wawancara / interview, yaitu cara pengumpulan data melalui obrolan atau tanya jawab serta bertatap muka secara langsung.
3. Metode tertulis, yaitu dengan menggunakan sumber-sumber dari berbagai buku sebagai panduan karya tulis tersebut.
Melalui sumber-sumber tersebut penulis berharap agar dapat memperoleh informasi dan data secara jelas walaupun tidak seakurat mungkin.

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Sejarah Singkat
Balai Inseminasi Buatan (BIB) didirikan pada tanggal 3 April 1976 oleh Prof. Dr. Ir. Toyib Hadiwijaya. Balai Inseminasi Buatan (BIB) merupakan balai pertama di Indonesia yang memproduksi semen beku ternak besar seperti sapi perah dan sapi potong. Tetapi tidak hanya itu saja balai ini juga memproduksi inseminasi buatan pada sapi, tidak hanya pada sapi saja yang ada di balai ini tetapi ada juga kambing dan kerbau.
Balai Inseminasi Buatan (BIB) telah memproduksi semen beku lebih dari 2.000.000 dosis. Sebagai balai pertama yang didirikan di Indonesia. Balai Inseminasi Buatan (BIB) yang ada di Lembang yang luas lahannya sekitar 10 hektar yaitu 6 hektar untuk perumahan dan 4 hektar untuk perkebunan.
Selain Balai Inseminasi yang ada di Lembang ada juga Balai Inseminasi Buatan (BIB) yang ada di Singosari, tetapi Balai Inseminasi Buatan (BIB) di Lembang merupakan balai tertua di Indonesia.

2.2 Tugas Pokok dan Fungsi Balai Inseminasi Buatan
2.2.1 Tugas Pokok BIB
Melaksanakan produksi dan pemasaran semen beku ternak unggul serta pengembangan inseminasi buatan.

2.2.2 Fungsi BIB
1. Pemeliharaan ternak unggul
2. Pengujian keturunan dan felilisasi pejantan unggul
3. Produksi dan penyimpangaan semen beku
4. Pencatatan dan pemanfaatan semen beku serta pengawasan mutu semen
5. Pengembangan teknik produksi semen beku benih unggul
6. Pemberian saran teknik produksi semen beku benih unggul
7. Pemberian pelayanan teknik kegiatan pemeliharaan ternak dan semen beku
8. Pemberian informasi dan dokumentasi hasil kegiatan Inseminasi Buatan
9. Distribusi dan pemasaran semen beku unggul
10. Pengujian kesehatan dan diagnosa penyakit ternak
11. Urusan tata usaha dan rumah tangga balai.

BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Inseminasi Buatan
Teknologi modern pada zaman sekarang telah mampu mengatasi masalah kemandulan (bagi manusia) dan menghasilkan bibit-bibit unggul (bagi hewan yang dapat menguntungkan manusia), khususnya dalam bidang bioteknologi. Hal tersebut dapat dilakukan diantaranya dengan melalui inseminasi buatan.
Dari hasil kemajuan bioteknologi tersbut, sekarang telah tersedia inseminasi buatan, fertilisasi atau pembuatan in vitro dan rahim kontrak. Kemajuan bioteknologi tersebut apabila diterapkan pada dunia hewan, maka akan mendatangkan manfaat dan keuntungan bagi manusia. Namun, jika kemajuan bioteknologi diaplikasikan pada manusia, maka akan menghasilkan dampak yang positif dan dampak yang negatif. Dampak posotof dapat diambil dari orang-orang yang telah menikah, tetapi tidak bisa mempunyai anak, maka agar keinginan untuk mempunyai anak dapat terwujud, maka dapat dilakukan dengan melalui bayi tabung atau rahim kontrak. Sedangkan dampak negatifnya yaitu dapat menimbulkan kekacauan dalam sistem keturunan manusia.
Maka sejak tahun 1956 dewan gereja di Roma telah mengutuk kegiatan tersebut dengan alasan bahwa inseminasi buatan dapat memisahkan tindakan prokreasi (kasih sayang terhadap anak, dan anak adalah karunia Tuhan yang harus dijunjung tinggi) dan persatuan cinta. Alasan lainnya yaitu kegiatan inseminasi melibatkan tindakan masturbasi yang dibutuhkan untuk mengeluarkan sperma.
Sampai sekarang mayoritas para teolog moral masih berpegang pada sikap mengutuk terhadap kegiatan inseminasi buatan yang diterapkan pada manusia. Bagaimanapun juga pewaris sifat genetis yang terjadi pada anak melibatkan pihak ketiga bagi pasangan dalam perkawinan. Hal tersebut akan menimbulkan “celaan biologis” serta menyangkut psikologis anak itu sendiri dalam lingkungan sosialnya.
Kenyataannya sekarang, banyak para ahli psikologi yang masih berusaha keras untuk mewujudkan atau mengaplikasikan inseminasi buatan pada manusia. Namun, bagi pasangan suami istri yang akan melaksanakan inseminasi buatan dapat dilakukan atas dasar keputusan bersama guna mewujudkan pernikahan yang harmonis dan bahagia.

3.2 Cara Mereproduksi Semen Beku
Reproduksi semen beku hanya dapat dilakukan di Balai Inseminasi Buatan (BIB). Tahapan-tahapan dalam memproduksi semen beku diantaranya yaitu:
1. Mempersiapkan sapi pejantan yang akan diinseminasi yang umurnya 15 – 18 bulan, tingginya 123 cm dan beratnya minimal 350 kg.
2. Persiapan vagina buatan yang suhunya mencapai 420C, vagina buatan ini harus licin, karena itu gunakan vaseline agar licin seperti vagina yang asli
3. Penampungan semen sapi pejantan, sapi pejantan dan spai betina disatukan kemudian sapi-sapi itu akan melakukan fisin (pemanasan sebelum kawin), bila penis jantan telah kelihatan merah, tegang dan kencang, maka penis langsung dimasukan ke vagina buatan.
4. Kemudian sperma dalam vagina buatan dibawa ke laboratorium untuk diperiksa.
 Bila sperma berwarna hijau, ada kotoran yang terdorong
 Bila sperma berwarna merah, segar, venis teriritasi
 Bila sperma berwarna cokelat, venis ada yang luka
 Bila sperma berwarna krem susu bening, maka itulah sperma yang bagus
5. Penentuan konsentrasi semen segar
6. Proses pengenceran sperma
7. Proses filing dan sealing, memasukan sperma ke dalam ministrow isi I strow 0,25 CC
8. Proses pembekuan
9. After throwing dan water intubator test

3.3 Jenis-Jenis Sapi
Sapi merupakan salah satu jenis hewan mamalia, yang berkembang biak dengan cara melahirkan. Pada dasarnya reproduksi mamalia sama seperti reproduksi pada manusia, terjadi secara seksual melalui proses fertilisasi.
Di Indonesia ada banyak jenis sapi. Ada sapi yang merupakan sapi lokal dan ada sapi keturunan.

3.3.1 Sapi Bali
Sapi Bali merupakan sapi lokal dengan penampilan produksi yang cukup tinggi. Penyebarannya telah menyebar luas di seluruh Indonesia, meskipun masih tetap terkonsentrasi di pulau Bali sampai saat ini kemurnian genetis sapi Bali masih terjaga karena ada undang-undang yang mengatur pembatasan masuknya sapi jenis lain ke pulau Bali.
Asal usul sapi Bali adalah Banteng yang telah mengalami penjinakan selama bertahun-tahun. Proses domestikasi (penjinakan) yang cukup lama diduga penyebab sapi Bali lebih kecil dibandingkan dengan Banteng.
Kemampuan reproduksi sapi Bali merupakan yang terbaik diantara sapi-sapi lokal. Hal ini disebabkan sapi Bali bisa beranak setiap tahun. Sapi Bali mudah beradaptasi dengan lingkungan baru, sehingga sering disebut ternak perintis.

3.3.2 Sapi Ongole
Sapi Ongole merupakan keturunan sapi Zebu dari India. Berwarna dominan putih dengan warna hitam di beberapa bagian tubuh, bergelambir di bawah leher dan berpunuk. Sifatnya yang mudah beradaptasi dengan lingkungan setempat menyebabkan sapi ini mampu tumbuh secara murni di pulau Sumba, sehingga disebut sapi Sumba Ongole (SO). Persilangan antara sapi Jawa asli (madura) dengan sapi Ongole secara grading up menghasilkan sapi yang disebut sapi peranakan Ongole (PO).
3.3.3 Sapi Fries Holstein (FH)
Sapi yang dipelihara dengan tujuan untuk mengahsilkan susu ini diintroduksi dari Belanda. Warnanya belang hitam dan putih dengan ciri khusus segitiga pada bagian dahi. Sapi yang tidak berpunduk ini memiliki pertumbuhan yang cukup tinggi, sehingga sapi-sapi jantannya sering dipelihara untuk digemukkan dan dijadikan sapi potong. Di beberapa daerah juga dilakukan persilangan antara sapi Jawa asli dengan sapi FH dengan pola grading up dan keturunannya lazim disebut sapi PFH.

3.3.4 Sapi Brahman
Sapi Brahman berasal dari India yang merupakan keturunan dari sapi Zebu. Di Amerika sapi ini dikembangkan cukup pesat karena pola pemeliharaan dan sistem perkawinan yang terkontrol, sehingga penampilan beberapa parameter produksinya melebihi penampilan produksi di negara asalnya. Sapi Brahman mampu beradaptasi dengan lingkungan yang baru dan tahan gigitan caplak. Pertumbuhan sapi Brahman sangat cepat. Hal ini yang menyebabkan sapi ini menjadi primadona sapi potong untuk negara-negara tropis.

3.3.5 Sapi Madura
Sapi Madura merupakan hasil persilangan antara Bos Sandoicus dan Bos Indicus yang tumbuh dan berkembang di Madura. Sapi yang berpunuk ini dikenal dengan sapi jawa asli dengan warna kuning hingga merah bata. Terkadang terdapat warna putih pada moncong, ekor dan kaki bawah. Warna hitam terdapat pada telinga dan bulu ekor. Penyebaran sapi Madura telah mengalami erosi genetis, sehingga penampilan produksi yang diukur dari pertambahan berat.

Jenis-jenis sapi di Balai Inseminasi Buatan (BIB)
Di Balai Inseminasi Buatan ada 7 jenis sapi, yaitu :
1. Sapi hitam di panggung simental
2. Cokelat semua li mosin
3. Hitam putih Vresen Holenstain (VH)
4. Hitam Angus
5. Krem jenis Brahman Denole
6. Kopi susu jerse
7. Ongole krem pipih pantat
Tidak hanya sapi yang diproduksi di Balai Inseminasi Buatan, tetapi juga memproduksi :
 Kerbau burah (bule item) bonga
 Kambing dan domba
 Kuda (sekarang tidak dikembangkan lagi)
Makanan sapi yang ada di BIB diantaranya rumput gajah, rumput Afrika, dan konsentrat (dedak, jagung, tepung, ikan, darah mineral dan tulang). Sapi di BIB tidak boleh terlalu gemuk apabila akan diinseminasi karena genetik sapi harus murni. Selain itu, untuk makanan sapi harus ditambahkan protein sebanyak 24%.

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan
Karya tulis dalam tugas sekolah lintas mata pelajaran ini sangat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi penulis, khususnya di bidang Inseminasi Buatan pada sapi. Dengan adanya kegiatan penelitian pada Inseminasi Buatan pada sapi ini dapat memahami cara reproduksi sapi. Menambah wawasan ilmu pengetahuan , dan juga memenuhi tugas lintas mata pelajaran di sekolah.
Untuk itu dalam hal ini penulis menyusun karya tulis ini sebagai tolak ukur negara kita dalam hal Inseminasi Buatan pada sapi yang dilakukan di Lembang, Bandung. In isangat berpengaruh untuk pemasukan kas negara atau keuangan negara. Selain itu juga untuk memenuhi bibit ternak sapi unggul yang selalu mengimpor dari negara lain. Selain hal tersebut juga dapat memajukan Indonesia, mensejahterakan warga Indonesia khususnya di bidang peternakan, Inseminasi pada sapi.

4.2 Saran
Sebelumnya penulis minta maaf kepada khalayak yang bersangkutan yakni Balai Inseminasi Buatan (BIB). Penulis sangat yakin jikalau BIB ini maju maka apa yang dibutuhkan negara kita dalam hal pembibitan ternak sapi unggul, pembuatan semen beku ini dapat berbuah hasil yang diinginkan yaitu memperoleh keuntungan.
Kelancaran yang dilakukan selama beberapa tahun yaitu dari tahun 1976 sampai sekarang ini adalah karena berkat kerja keras, usaha atau upaya, saling kerja sama yang dilakukan oleh para karyawan kompak, disiplin dan pantang menyerah dalam menghadapi hambatan dan rintangan, sehingga membuahkan hasil yang memuaskan.
Selain itu dengan apa yang dikaji, digali dan dipelajari apa yang didapat di BIB ini, penulis sangat berharap jikalau penulis berhasil dalam pendidikannya maka akan dengan berat hati, BIB bersedia menerima sebagai karyawan di BIB tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

1. Supriyadi, Edi, dkk. Sigap Biologi 2B. Bandung : CV. Karya Iptek
2. Kusumaatmaja. Muhamad. Kiat Mengatasi Permasalahan Praktis.
3. Akhyar, Moh Salman, 2003. Biologi Untuk SMA Kelas 1. Bandung : Grafindo Media Pratama.
4. Agustini, Dewi. 2002. Bioteknologi. Bandung : PPG Tertulis.
5. BALAI INSEMINASI BUATAN. Lembang, Bandung.

Filed under: MAKALAH BIOLOGI

proposal penelitian

Pengaruh Lingkungan Yang Panas Terhadap Perkembangan
Tumbuhan Lumut Diwilayah Jawa Barat
Khususnya Di Cibodas


P R O P O S A L P E N E L I T I A N

Tugas mata kuliah
Metodologi Penelitian
Drs. Dharsana Setiawan. M.sc
Pendidikan Biologi
Semester V

Disusun oleh :
Desi Prihatini
(20054150051)

Fakultas Teknik, Matematika dan Ilmu pengetahuan Alam
Universitas Indraprasta PGRI
Jakarta

2008


LEMBAR PENGESAHAN

MENYETUJUI,

Pembimbing I Pembimbing II

(Drs. Dharsana Setiawan. M.sc) (Dra. Yulistiana)

MENGETAHUI,

Dekan FT MIPA

Universitas Indraprasta PGRI

(Drs. Supardi)

DAFTAR ISI

Judul ………………………………………………………………………. i

Lembar pengesahan ……………………………………………………….. ii

Daftar isi …………………………………………………………………… iii

A. Latar Belakang ………………………………………………………. 1

B. Perumusan Masalah …………………………………………………. 1

C. Ruang Lingkup Masalah …………………………………………….. 1

D. Tujuan Penelitian ……………………………………………………. 2

E. Pembahasan Kerangka Teori ………………………………………… 2

F. Hipotesis ……………………………………………………………… 3

G. Variabel Penelitian …………………………………………………… 3

H. Metodologi Penelitian ………………………………………………… 4

I. Analisis Data ………………………………………………………….. 4

J. Personalia Penelitian ………………………………………………….. 4

K. Jadwal Penelitian ……………………………………………………… 4

L. Anggaran Biaya ……………………………………………………….. 4

M. Wawancara …………………………………………………………….4

N. Daftar Pustaka…………………………………………………………..5

Pengaruh Lingkungan Yang Panas Terhadap Perkembangan

Tumbuhan Lumut Di Wilayah Jawa Barat

Khususnya Di Cibodas

A. Latar Belakang Masalah

Di Indonesia terdapat banyak sekali jenis tumbuhan, baik tumbuhan tingkat tinggi maupun tumbuhan tingkat rendah, tumbuhan yang hidup diperairan atau tumbuhan yang hidup di dataran. Pada penelitian ini Saya mencoba untuk meneliti perkembangbiakan tumbuhan berdasarkan DIVISI BRYOPHYTA (tumbuhan lumut) yang di bedakan menjadi dua kelas yaitu MUSCI (lumut daun) dan Hepaticeae (lumut hati) yang ada di daerah Cibodas. Wilayah Cibodas termasuk wilayah yang dingin atau lembab karena masih terdapat pepohonan. Jumlah kendaraan yang sedikit sehingga kadar polusi pun masih minimum, oleh karena itu tumbuhan lumut daun (Musci) dan Lumut hati (hepaticeae) dapat beradaptasi dengan lingkungan tersebut dengan sebaik-baiknya agar ia dapat hidup dan berkembang secara baik untuk melestarikan habitatnya. Tumbuhan lumut ini dapat tahan pada terestrial yang lembab sehingga banyak dibudidayakan didaerah Cibodas dan perawatannya pun juga tergolong mudah.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan judul yang Saya ambil, Saya dapat merumuskan masalah yaitu sebagai berikut :

1. Adaptasi terhadap perubahan iklim yang mulai terjadi

2. Bagaimana perkembang biakan pada lumut

3. Adaptasi terhadap lingkungan tempat tinggal

4. Bagaimana cara pergiliran keturunan pada lumut

C. Ruang Lingkup Masalah

Ruang lingkup masalah berdasarkan penelitian yang Kami ambil adalah diwilayah Jawa Barat tepatnya didaerah Cibodas

D. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Mengetahui cara perkembang biakan lumut baik itu lumut daun (Musci) maupun lumut hati (Hepaticeae)

2. Mengetahui jumlah populasi tumbuhan lumut didaerah Cibodas

3. Ada tidaknya pengaruh perubahan lingkungan terhadap DIVISI BRYOPHYTA (Tumbuhan Lumut)

4. Mengetahui bagaimana cara pergiliran keturunan pada tumbuhan lumut.

E. Pembahasan Kerangka Teori

Berdasarkan teori yang Kami ambil, tumbuhan lumut merupakan tumbuhan yang hidup dan telah menyesuaikan diri dengan lingkungan darat khususnya ditempat-tempat yang lembab dan basah. Lumut dapat hidup mulai dari daratan rendah hingga daratan tinggi, dan dari daerah tropis hingga daerah padang tundra di kutub. Hanya beberapa spesies lumut saja yang dapat hidup di air. Didaerah hutan hujan tropis, lumut tidak hanya hidup ditanah dan bebatuan, tetapi juga hidup subur menutupi dedaunan tumbuhan lain. Tumbuhan lumut yang hidup menempel pada dedaunan disebut epifit, dan hutannya disebut hutan lumut. Tubuh lumut terdiri atas banyak sel yang tak berdinding selulosa. Didalam sel terdapat plastida yang mengandung klorofil, sehingga tumbuhan lumut bersifat autotrof. Dalam klasifikasi lumut dimasukan kedalam satu DIVISI BRYOPHYTA dengan anggota lebih kurang 25.000 spesies. Tumbuhan yang termasuk divisi ini belum memiliki jaringan penunjang dan jaringan pengangkut, sistem pengangkutan zat-zat didalam tubuhnya berlangsung secara difusi dari sel ke sel yang tersusun seperti jala. Adapun perkembang biakan lumut baik secara seksual dan secara aseksual, perkembang biakan secara seksual berlangsung dengan cara penyatuan antara sel kelamin jantan dengan sel kelamin betina. Berdasarkan kedudukan gametangiumnya, lumut dapat dibedakan menjadi lumut berumah satu dan lumut berumah dua. Lumut berumah satu adalah lumut yang dalam satu individu terdapat anteridium dan arkegonium, misalnya lumut daun. Sedangkan lumut berumah dua adalah bila dalam satu individu hanya terdapat anteridium saja, misalnya lumut hati. Perkembang biakan secara aseksual dapat terjadi dengan banyak cara, antara lain :

1. Membentuk tunas pada pangkal batang dan selanjutnya tunas terlepas dan berkembang menjadi individu baru.

2. Membentuk stolon

3. Batang lumut yang bercabang-cabang mati, lalu cabangnya tumbuh dan berkembang menjadi individu baru .

4. Protonema primer membentuk individu baru.

5. Protonema putus-putus menjadi banyak protonema, dan

6. Membentuk kuncup

F. Hipotesis

Dari penelitian yang telah Saya teliti, Saya dapat mengambil dugaan bahwa tumbuhan lumut hanya dapat hidup pada dataran tinggi, sebab pada dataran tinggi mempunyai suhu yang dingin dan lembab sehingga membantu mempertahankan jumlah populasi tumbuhan lumut diwilayah jawa barat tepatnya didaerah cibodas. Perkembang biakannya pun hanya terjadi secara aseksual dengan bantuan tangan manusia, tumbuhan lumut mengandung plastida yang didalamnya mengandung klorofil, sehingga tumbuhan lumut bersifat autotrof.

G. Variabel Penelitian

Berdasarkan penelitian yang Saya lakukan mengenai tumbuhan lumut didaerah Cibodas, variabel penelitian dapat Saya ukur dari banyknya jumlah populasi lumut daun (musci) dan jumlah populasi lumut hati (Hepaticeae) dan bagaimana cara adaptasi dari tumbuhan lumut pada dataran tinggi yang memiliki suhu yang lembab. Dengan adanya alat ukur tersebut Saya dapat mengetahui bagaimana melestarikan tumbuhan lumut agar tidak punah dan dapat bermanfaat untuk lingkungan khususnya para pelajar agar dapat membantu dalam penelitian yang terdapat didalam kegiatan belajar-mengajar baik disekolah maupun di perguruan tinggi.

H. Metodologi Penelitian

Metodologi penelitian yang Saya ambil adalah penelitian deskriptif yaitu mendeskripsikan mengenal masalah pengaruh lingkungan terhadap perkembangan tumbuhan lumut, baik lumut daun (Musci) maupun lumut hati (Hepaticeae)

I. Analisis Data

Teknik pengumpulan data yang Saya lakukan adalah dengan cara observasi ke objek penelitian dan melakukan wawancara kepada Guide tumbuhan lumut didaerah Cibodas.

J. Personalia Penelitian

Konsultan : Drs. Dharsana Setiawan. M.Sc

Dra. Yulistiana

Pelaksana : Desi Prihatini

Fauzan Marbawi. Amd

K. Jadwal Penelitian

Hari : Minggu

Tanggal : 6 Januari 2008

Jam : 10.00 WIB s/d selesai

Tempat : Riset Dunia Lumut Cibodas

L. Anggaran Biaya

Transportasi : Rp. 200.000

Dokumentasi : Rp. 100.000

Tip : Rp. 100.000

Biaya tak terduga : Rp. 100.000

jumlah :Rp. 500.000

M. Wawancara

Nama : Syarifudin

Pekerjaan : Wiraswasta

Umur : 27 Tahun

Hari : Minggu

Tanggal : 6 Januari 2008

Waktu : 10.00 WIB

Pertanyaan :

1. Bagaimana cara tumbuhan lumut berkembang biak ?

2. Apakah tumbuhan lumut hanya dapat bertahan didataran tinggi ?

3. bagaimana cara pergiliran keturunan pada tumbuhan lumut ?

4. apakah manfaat dari merawat tumbuhan lumut dan adakah nilai ekonomisnya?

5. apa saja bagian-bagian dari organ tumbuhan lumut ?

6. apakah faktor lingkungan yang panas dapat memmpengaruhi perkembangan tumbuhan lumut ?

7. apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan tumbuhan lumut ?

N. DAFTAR PUSTAKA

Prawirohartono, Slamet.1999. Sains Biologi. Jakarta : Bumi Aksara

Tjitrosoepomo, Gembong. 2003. TAksonomi Tumbuhan. Yogyakarta : Gajah Mada University Press